Mimpi tsunami adalah mimpi yang paling sering singgah dalam tidurku, setidaknya sampai 1 tahun kemaren. Entahlah…mungkin karena trauma dengan kejadian yang menimpa Aceh. Walaupun aku sendiri tidak memiliki keluarga disana tapi rasanya ikut merasakan kecemasan dan ketakutannya.
Mimpi yang pertama terjadi saat berita itu lagi gembar-gembornya. Dalam mimpi itu, air laut setinggi gedung menerkam rumahku. Aku yang sebenarnya tidak mahir berenang, dalam mimpi itu menjadi bisa berenang seadanya dan mulai sibuk kepayahan mengumpulkan semua anggota keluarga dan teman-temanku..Sambil menangis ketakutan kucari mereka satu persatu dan menjerit saat kulihat mereka tidak ada di tempatnya. Badanku sendiri terseret-seret ombak tapi mataku sibuk mencari apakah orang yang kusayangi ada di sekitarku dan selamat?
Mimpi tsunami yang kedua, aku sudah mulai mahir berenang. Saat ombak tinggi itu datang, aku sedang berwisata ke pantai dan terpisah dengan orang yang kusayangi. Aku yang kebetulan selamat sibuk menelvon untuk memastikan keselamatannya juga namun tidak ada jawaban..Pikiranku panik namun kuusahakan untuk tetap jernih dan berprasangka baik. Akhir yang bagus, akhirnya aku menemukannya.
Mimpi yang ketiga bukan mimpi tsunami tapi tetap berhubungan dengan air. Aku berada di kapal yang besar..Ombak yang amat tinggi datang dari depan dan belakang kapal..berusaha memecah kapal yang kutumpangi. Namun dalam mimpi ini aku sudah lebih santai…apakah karena mimpi tsunami sebelum-sebelumnya sudah melatih sarafku secara tidak sadar? Yang kufokuskan adalah mencari tempat yang tinggi, yang sekiranya tidak berpotensi untuk menyeret dan menceburkanku ke laut karena dalam mimpi ini, jelas aku tidak bisa berenang.
Mimpi yang ke empat, aku berada dalam menara di tepi laut. Tsunami datang, hampir setinggi menara yang kunaiki rasanya. Namun dalam mimpi ini, sepertinya aku sudah mengetahui bagian mana dari menara yang kuat dan terlindung..sehingga aku aman di dalamnya. Kuajak orang-orang di sekitarku untuk ikut bersamaku menuju tempat itu, ada yang mau, ada yang tidak. Aku sedikit cemas untuk yang tidak mengikuti ajakanku tapi biarlah..nanti mereka mungkin akan menyusulku.
Mimpi yang kelima, aku kembali berada di rumah dengan keluargaku. Anehnya tsunami seperti sudah menjadi musim disini…aku bisa tahu dengan mudah hari apa dan jam berapa ia muncul. Berapa lama dan ombaknya setinggi apa..Tak diragukan lagi, aku bisa melindungi keluargaku dengan baik. Pikiranku hanya cemas pada tamu yang mengunjungiku secara tiba-tiba, apakah ia akan selamat ?
Mimpi yang keenam aku berada di jalan raya, lokasinya di perbukitan dimana ada laut di dekatnya. Seperti biasa, tsunami datang…jalanan macet oleh mobil-mobil yang ingin menyelamatkan diri. Dalam mimpi ini, aku sudah bisa mengetahui sampai sejauh mana tsunami itu akan menghantam sehingga aku mencari tempat aman yang tidak terlalu berlebihan dan cukup dengan kemampuanku untuk lari..Kuajak beberapa orang yang kukenal untuk iut bersamaku tapi mereka tidak mau. Tidak seperti aku merisaukan keluargaku, aku sama sekali tidak peduli dengan mereka. Ikutlah kalau kau mau, jika tidak, itu sudah menjadi nasibmu…Itulah pikiranku.
Sejak saat itu aku tidak pernah mimpi tsunami lagi. Entah karena peristiwa itu sudah terlalu lama hingga aku melupakannya..atau karena aku sudah mampu mengatasi tsunami di mimpiku. Entah apa pula arti mimpiku ini, aku tidak begitu memikirkannya. Yang jelas aku lebih lega…karena walaupun aku tampak lebih baik di tiap mimpi, tsunami selalu tidak enak untuk dialami.